Tuesday, May 5, 2020

Trip to Bali: Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana

Setelah mengunjungi Pura Luhur Uluwatu dan Pantai Pandawa, yang mana keduanya memiliki suasana pantai atau laut dengan tebing di sekelilingnya, serta mengunjungi Istana Ubud yang ternyata jadi ajang belanja mengasyikkan sepertinya (sepertinya, bagi mereka ≧ω≦), aku dan rombongan temanku pun mengunjungi Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana (TB GWK). 
Patung GWK Dilihat dari Kejauhan
Jarak antara Istana Ubud dengan TB GWK ini cukup jauh, seingatku lebih dari satu jam. TB GWK ini terletak di Jalan Raya Uluwatu, Ungasan, Kuta Selatan, Kabupaten Badung. Yap, lagi-lagi Badung ehehe. Tempat ini memang dekat dengan objek-objek wisata yang sudah ku bahas sebelumnya, kecuali Istana Ubud yaaa. Menurut beberapa sumber, kalo mau ke GWK bisa juga naik Trans Sarbagita. Kurang paham bagaimana mekanismenya, tapi sepertinya ini seperti bus trans di Bali. Trans Sarbagita tujuan TB GWK berada pada koridor 1, yang berangkat dari GOR-Kota Denpasar dan mengakhiri perjalanan di TB GWK.
Berfoto Bersama
Di TB GWK terdapat patung Garuda Wisnu Kencana yang gede banget katanya sih ngalahin Patung Liberty di Amerika. Katanya sih patung ini dapat julukan Statue of Unity karena merupakan patung tertinggi ketiga yang ada di dunia (121 m dpl). Kalo baca sejarah pembangunan patung ini, kayanya panjang dan ruwet banget. Soalnya dari awal direncanakan, sampai benar-benar diresmikan, memakan waktu sampai hampir 30 tahun (1989-2018). Dengan segala dramanya seperti krisis moneter, pergantian presiden, kendala dana, sampai kontroversi karena patung ini berkaitan dengan nilai spiritualitasnya. Menurut masyarakat hindu, Dewa Wisnu seharusnya menghadap ke utara, namun patung Dewa Wisnu justru menghadap ke selatan. Selain itu, menurut sebagian masyarakat setempat, ukuran patung yang besar ini akan mengganggu keseimbangan spriritual Pulau Bali, jadi gak layak dijadikan tempat wisata.  
Patung GWK Dilihat dari Jauh
Nama Garuda Wisnu Kencana sendiri ini diberikan karena patung ini merupakan patung dari Dewa Wisnu, yaitu Dewa Pemelihara (Shiti) dalam agama Hindu yang sedang mengendarai burung Garuda. Kata kencana artinya emas, hal ini karena tahta patung tersebut dilapisi emas. Kulit patung ini terbuat dari tembaga yang dilapisi kuningan. Menurut pembuatnya, Nyoman Nuarta, yang juga merupakan alumni seni rupa ITB, kuningan digunakan agar lebih tahan panas dan terpaan angin. Menurutnya, tembaga mudah bergerak hanya pada suhu 60oC, sedangkan titik leleh kuningan mencapai lebih dari 1000oC. Hmmm beliau benar-benar seniman yang cerdas, memahami segala aspek yang terkait dalam pembuatan sebuah karya seni.

Sebenernya cukup disayangkan karena kita datang ke TB GWK terlalu sore (Jam 5 sore WITA). Tempat ini emang buka dari jam 08.00-22.00 WITA, tapi area utama patung GWK nya hanya dibuka sampai jam 5 sore. Jadi kita cuma bisa foto-foto di luar area utamanya. Niat awal  ke TB GWK emang buat nonton pertunjukan Tari Kecak sih, jadi sengaja dateng sore. Ini karena kita gak tau kalo area utamanya buka cuma sampe sore aja. Tiket masuknya waktu itu Rp 125.000, tapi kita dapet harga diskon jadi Rp 110.000 setelah bayar via ecommerce. Tapi kalau mau masuk ke area utama, bayarnya Rp 200.000. 
Patung Selamat Datang
Dari parkiran, kita disediakan kendaraan shuttle bus (namanya GWK Loop katanya) sampai ke pintu masuk TB GWK. Setelah turun, kita bayar tiket di sana, lalu berjalan ke area lotus pond. Di sana, kita bebas melakukan apa pun, tapi kita tidak boleh membawa makanan masuk ke dalam TB GWK. Kita bebas menonton pertunjukan apa pun yang ada di sana. Berhubung kita udah cek n ricek jadwalnya, jadi kita nonton sesuai apa yang kita cita-citakan, yap, Tari Kecak. Meskipun sudah malam, penonton Tari Kecak di TB GWK ini bisa dibilang cukup banyak untuk memenuhi area Lotus Pond (Kolam Teratai), tempat Tari Kecak ini digelar.  
Pertunjukan Seni Tari Kecak
Tari Kecak sendiri merupakan tarian khas dari Bali yang diciptakan oleh Wayan Limbak tahun 1930. Tari ini dikenal juga dengan nama Tari Sanghang, Tari Cak atau Tari Api. Berbeda dari tarian yang lain, Tari Kecak tidak diiringi dengan alat musik atau gamelan tetapi diiringi oleh suara 70 orang laki-laki yang berbaris melingkar, menggunakan kain kotak-kotak monokrom. Orang-orang ini meneriakkan kata “cak cak cak” berulang-ulang dengan ritme yang berbeda sehingga seperti diiringi sebuah musik atau lagu yang khas. 

Tari ini diambil dari kisah Ramayana, salah satu bagiannya adalah menceritakan tentang penculikan Dewi Shinta oleh Raja Rahwana. Selama kurang lebih satu jam, aku merasa deg-degan karena aura mistis yang ditampilkan oleh pemainnya. Apalagi bagian ketika ada api dinyalakan. Sebenernya aku kurang bisa mendengar suara dari pembaca kisahnya (hmmm kurang tau namanya) karena suaranya bercampur dengan suara orang-orang di sana dan iringan “cak” nya. Jadi, aku kurang paham bagaimana keseluruhan ceritanya ehehehe.Mungkin sampai di sini saja cerita perjalananku ke TB GWK dan menonton Tari Kecak. Semoga membantu ٩(^ᴗ^)۶
Berfoto Bersama

1 comment:

  1. Tiap tahun aku selalu ke Bali sebelum pandemi, tp ga pernah liat lgs patung GWK ini setelah selesai :D. Selalu dr jauh. Pas msh blm jadi, malah pernah mba hahahahah.

    Diliat dr jauh aja patungnya megah banget yaaa, apalagi dr Deket. Bagus banget. Kalo udh bisa ke Bali lagi, aku bakal datangin deh :D. Ga afdol rasanya kalo ke Bali tp ga kesana

    ReplyDelete