Tuesday, May 19, 2020

Niacinamide dan Kesehatan Kulit (Part 1)

Bagi para wanita, khususnya yang punya masalah dengan jerawat atau bekas jerawat, pasti tidak asing dengan niacinamide. Bahan ini biasanya ditambahkan pada produk skin care dan digadang-gadang dapat mengatasi permasalahan yang berkaitan dengan jerawat. Ternyata, niacinamide tidak hanya berkaitan dengan jerawat saja, melainkan beberapa penyakit kulit lainnya. Tulisan di bawah ini akan menjelaskan pengaruh niacinamide pada beberapa penyakit kulit. Tulisan ini diterjemahkan dari Journal of Cosmetic and Dermatology 13(4) halaman 324-328 dengan judul asli “A review of nicotinamide: treatment of skin diseases and potential side effects”.

(a.) Nikotinamid/ niacinamid; (b.) Asam nikotinat
Ringkasan
Nikotinamid, juga dikenal sebagai niacinamid, adalah bentuk amida dari vitamin B3. Senyawa ini adalah prekursor dari koenzim esensial untuk berbagai reaksi dalam tubuh termasuk produksi adenosin trifosfat (ATP). Asam nikotinat, juga dikenal sebagai niacin, diubah menjadi nikotinamid di dalam tubuh. Penggunaan nikotinamid topikal dalam pengobatan jerawat vulgaris; melasma; dermatitis atopik; rosacea; dan nikotinamid oral dalam mencegah kanker kulit nonmelanoma telah dibahas dalam review ini. Kemungkinan efek samping dan konsekuensi dari paparan nikotinamid yang berlebihan ditinjau, termasuk saran bahwa nikotinamid mungkin memiliki peran dalam meningkatkan resiko diabetes, penyakit Parkinson, dan kerusakan hati.

Pendahuluan
Nikotinamid (juga dikenal sebagai niacinamid) adalah bentuk aktif vitamin B3 yang larut dalam air. Asam nikotinat (juga dikenal sebagai niacin) diubah menjadi nikotinamid di dalam tubuh. Nikotinamid sangat penting untuk koenzim NADH dan NADPH dan untuk lebih dari 200 reaksi enzimatik dalam tubuh termasuk pembentukan ATP. Niacin dan nikotinamid dianggap identik dalam peran mereka sebagai vitamin tetapi mereka memiliki efek farmakologis yang berbeda. Tidak seperti nikotinamid, niacin menurunkan kolesterol, menyebabkan vasodilatasi, kemerahan pada kulit, sakit kepala, dan hipotensi.
Daging, ikan, dan gandum merupakan sumber nikotinamid yang besar, sedangkan sayuran lebih sedikit. Kekurangan niacin/ nikotinamid dapat menyebabkan pellagra, yaitu penyakit yang berkaitan dengan dermatitis fotosensitif, diare, dan demensia. Jaringan yang berbeda memiliki batas yang berbeda untuk kekurangan vitamin B3, dan kulit menjadi jaringan yang sangat rentan. Pellagra yang diinduksi isoniazid telah terbukti dapat disembuhkan dengan aplikasi topical (lokal) nikotinamid dengan cara diserap melalui kulit karena memiliki efek sistemik. Nikotinamid yang dioleskan secara topikal memperbaiki banyak kondisi kulit dan telah terbukti mengurangi perkembangan kanker kulit nonmelanoma ketika dikonsumsi secara oral.
Nikotinamid digolongkan sebagai aditif makanan, bukan obat-obatan dan karenanya belum diuji secara ketat. Nicdotinamide memiliki fungsi neuroprotektif dan antioksidan. Senyawa ini juga mengurangi pigmentasi, keriput, imunosupresi yang diinduksi ultra-violet dan produksi sebum.

Topikal nikotinamid
Acne vulgaris (Jerawat)
Nikotinamid topikal telah terbukti bermanfaat dalam pengobatan jerawat karena sifatnya yang sebo-supresif, anti-inflamasi, dan menyembuhkan. 50 orang Jepang yang diobati dengan 2% nikotinamid menunjukkan tingkat ekskresi sebum yang menurun secara signifikan setelah 2 dan 4 minggu aplikasi. Pada 30 orang dengan ras kaukasia, setelah 6 minggu pengobatan, casual sebum level (jumlah lipid yang ada pada kesetimbangan ketika permukaan kulit tidak tersentuh selama beberapa jam) berkurang secara signifikan, tetapi tingkat ekskresi sebum tidak.
Secara statistik, penurunan signifikan jumlah pustula, komedo, dan papula ditemukan ketika 4% nikotinamid gel diaplikasikan selama 8 minggu. Satu pasien dari 38 penderita pruritus (gatal) dan tiga mengalami luka bakar ringan. Efek samping nikotinamid jauh lebih aman daripada antibiotik dan nikotinamid tidak membuat patogen yang resisten terhadap antibiotik. Peningkatan ini sebanding dengan pengobatan antibiotik topikal dengan gel clindamycin. Sebuah uji coba double-blind terhadap 76 orang dengan jerawat radang sedang, diobati dengan 4% gel nikotinamid atau 1% gel clindamycin, memberikan hasil bahwa kedua perawatan tersebut menghasilkan penurunan gejala jerawat yang serupa secara statistik selama periode percobaan 8 minggu. Sejumlah 82% dari mereka yang dirawat menunjukkan peningkatan. Nikotinamid juga meningkatkan penyembuhan luka bila diberikan secara intravena dibandingkan dengan plasebo.

Melasma (Kelainan pigmentasi, adanya bercak cokelat pada wajah)
Sebuah penelitian double-blind terhadap 27 pasien yang menggunakan 4% nikotinamid untuk setengah dari wajah mereka dan 4% hidrokuinon untuk setengah lainnya selama 8 minggu menemukan bahwa kedua perawatan meningkatkan melasma pada semua pasien. Ada pengurangan pigmentasi yang baik hingga sangat baik pada 44% area yang diobati dengan nikotinamid dibandingkan dengan 55% dengan hidrokuinon. Efek samping dari eritema, pruritus, dan luka bakar lebih jarang dan lebih ringan dengan nikotinamid dibandingkan dengan hidrokuinon (18% banding 29%). Nikotinamid mengurangi pigmentasi kulit dengan menekan transfer melanosom dari melanosit ke keratinosit.

Dermatitis atopik dan rosacea (Bercak atau benjolan merah pada wajah)
2% nikotinamid topikal yang diaplikasikan dua kali sehari untuk dermatitis atopik selama 4 dan 8 minggu secara signifikan mengurangi kehilangan air dan meningkatkan hidrasi stratum korneum. Nikotinamid mengarah pada peningkatan sintesis ceramide, asam lemak bebas, dan kolesterol yang terkandung dalam ruang antar sel lapisan stratum corneum.
Metabolit nikotinamid, N-metil-nikotinamid, terbukti memiliki sifat anti-inflamasi. Sebanyak 34 pasien dengan rosacea diobati dengan gel yang mengandung 0,25% N-metil-nikotinamid selama 4 minggu dan ada peningkatan baik sampai sedang pada 76% kasus. NADH (pengurangan bentuk nikotinamid adenin dinukleotida) yang dioleskan efektif pada pasien dengan rosacea dan dermatitis atopik. Sebagian besar pasien dengan rosacea menemukan bahwa 2 minggu aplikasi menurunkan eritema dan papula sebesar 50-75%. Nikotinamid meningkatkan sintesis kolagen dan protein yang terlibat dalam pembentukan keratin, filaggrin, dan involucrin dalam sel yang dikultur, sehingga meningkatkan keseluruhan struktur, kelembaban, dan elastisitas kulit.

Kanker kulit nonmelanoma
Kanker kulit nonmelanoma dikaitkan dengan radiasi ultraviolet (UV) yang merusak DNA dan secara sementara menekan fungsi perbaikan kekebalan kulit. Penekanan kekebalan meningkatkan kecepatan penyebaran kanker kulit, seperti yang terlihat pada pasien transplantasi organ pada imunosupresan dosis tinggi. Pasien transplantasi imunosupresi juga memiliki kanker kulit yang menunjukkan sifat agresif. SCCs (squamous cell carcinoma) dan AKs (actinic keratosis) beresiko ganda pada mereka yang merokok karena penekanan kekebalan kulit.
Radiasi UV menekan fungsi perbaikan kekebalan melalui sejumlah mekanisme termasuk penurunan regulasi dari jalur komplemen, apoptosis, dan metabolisme energi. Nikotinamid yang dioleskan tampaknya mengurangi efek imunosupresif dari radiasi UV karena penurunan regulasi ini tidak terlihat pada kulit yang diobati dengan nikotinamid.
Nikotinamid telah terbukti melindungi glikolisis dan kadar ATP seluler dari penurunan signifikan yang biasanya disebabkan oleh stres oksidatif pada fibroblast kulit manusia. Efek perlindungan nikotinamid pada stres oksidatif tampaknya bekerja tergantung pada dosis.
Keratinosit yang diiradiasi dengan UVB dengan adanya nikotinamid menunjukkan perbedaan ekspresi sitokin yang terlibat dalam peradangan dan cedera jaringan. Ada penurunan regulasi yang signifikan dari ekspresi banyak sitokin yang diproduksi oleh keratinosit (yaitu IL-6, IL-10, MCP-1, dan TNF-α mRNA).

Referensi:
Farage, M.A., ‎Miller, K.W., and Maibach, H.I. (2009). Textbook of Aging Skin. USA: Springer.
Rolfe, H.M. (2014). A review of nicotinamide: treatment of skin diseases and potential side effects. Journal of Cosmetic and Dermatology, 13(4): 324-328. DOI: 10.1111/jocd.12119.

No comments:

Post a Comment