Wednesday, October 3, 2018

SUKA DUKA PEJUANG KRL JABODETABEK

Setelah kurang lebih satu semester hidup di Depok, aku mulai terbiasa dengan kebiasaan orang-orang yang ada di sini. Macet di mana-mana, kalo berangkat kuliah harus lebih pagi biar ga telat, maklum aku kan pejuang pintu perlintasan KRL hahahaha. Kalo pas kereta ga lewat, berangkat ke kampus bisa tuh 10 menit, tapi kalo keretanya lagi banyak, yang tadinya 10 menit bisa jadi 30 menit nyampe ke kampus. Padahal dulu kalo ke kampus, dengan jarak yang sama, aku bisa berangkat lima menit sebelum jam masuk. Wah tapi jangan dicontoh ya, berangkat ke kampus emang harusnya pagi sih biar kalo ada apa-apa tetep bisa dateng tepat waktu. Selain macet, aku juga jadi terbiasa dengan yang namanya naik KRL. Moda transportasi ini termasuk moda transportasi favorit warga jabodetabek gais.

Selain Pejuang KRL, ada juga Pejuang Pintu Perlintasan KRL lho hahahaha

Gimana engga jadi favorit, bayarnya aja murah banget. Jarak kudus-semarang mentok-mentok bayar cuma Rp 4000. Tapi yaaa karena favorit itu, KRL jadi kaya ga pernah sepi gitu deh. Terutama kalo jam berangkat dan pulang kerja. Jangan harap deh bisa duduk. Kalo bisa duduk pun, bakalan susah keluarnya karena penumpangnya banyak pake banget. Untungnya aku ga harus merasakan itu setiap hari karena aku kan belum kerja. Tapi kalo main ke mana-mana ya tetep naik KRL, dan seringnya sih emang berdiri.

KRL kucinta ❤️
Darimu aku belajar tidur sambil berdiri...

Pengalaman paling aku inget pas naik KRL adalah waktu aku mau pulang ke kampung halaman. Kebetulan aku dapet kereta yang berangkatnya jam 20.30 WIB. Berhubung aku dari depok, jadi aku berangkat kira-kira 2,5 jam sebelum waktu berangkat kereta. Itu artinya, aku berangkat setelah sholat maghrib di kosan. Aku naik KRL tujuan Jakarta Kota dan turun di Manggarai, setelah itu turun untuk ganti kereta tujuan Jatinegara dan turun lagi untuk ganti kereta tujuan Stasiun Pasar Senen.

Stasiun Pondok Cina di Waktu Malam

Waktu aku naik dari Stasiun Pondok Cina, jumlah penumpangnya masih biasa-biasa aja. Setelah turun di stasiun Manggarai dan naik KRL tujuan Bekasi (tapi transit di Jatinegara) aku ga menyangka kalau KRL bakal seramai itu. Bayangin aja, orang-orang masuk dengan cara dorong-dorongan, dan saling berteriak satu sama lain.
Si A : “WOI UDAH DONG, PENUH NIH KERETA!”, 
Si B : “BISA DIEM GAK SIH? GAK PERNAH NAIK KERETA YA?”
Si A : “ADUH SAKIT NIH! JANGAN DORONG-DORONG BISA GAK SIH?”
Si C : “BISA DIEM GAK SIH!!!!
(Dan akhirnya si A pun dibully, sekian terimakasih)
Ngeliat orang ribut kaya gitu, entah kenapa aku jadi pengen mentertawakan diri sendiri. Entahlah, aku ngerasa gak cocok hidup dengan cara seperti ini, tapi gapapa, hidup memang penuh perjuangan. Aku yang berniat masuk terakhir dan mencari posisi di dekat pintu KRL pun akhirnya kedorong masuk ke tengah gerbong KRL -KE-TENGAH-GERBONG-KRL!. Padahal aku cuma berniat naik dari Manggarai ke Jatinegara di mana itu cuma berjarak satu stasiun aja.

Gerbong KRL di kala senja... 

Di dalem KRL pun aku sama sekali ga bisa gerak, karena saking penuhnya KRL. Bahkan untuk balik badan pun aku tak mampu. Aku yang panik takut ga bisa keluar KRL di Jatinegara pun bertanya pada bapak-bapak di depanku gimana caranya aku keluar dari tempat ini. Dan si bapak pun menjawab, “Nanti kalo pintunya di buka, bisa keluar kok mba”, oke aku pun tenang, dan akhirnya beneran bisa keluar sih, aku ga ngebayangin gimana kalo aku ga bisa keluar. Berarti aku harus turun di stasiun berikutnya dan ganti jalur buat balik ke stasiun Jatinegara.

Suasana di dalam KRL
(Btw ini jumlah penumpang yang normal, yang lagi rame ga sempet foto hehehe)

Singkat cerita, aku sampai di Stasiun Pasar Senen satu jam sebelum jam keberangkatan kereta. Alhamdulillah, ga telat. Karena kejadian ini, aku terus bertanya pada diri sendiri, apakah setelah lulus nanti aku bakal melanjutkan perjuanganku di sini atau mencari pekerjaan yang kuinginkan dengan kembali ke kampung halaman. Buat kalian yang tiap hari harus pulang-pergi naik KRL, tetap semangat! Kalian adalah pejuang KRL yang tangguh! Semoga apa yang kalian lakukan menjadi berkah bagi diri kalian sendiri, keluarga dan orang-orang terdekat kalian. Fighting! ❤️

Monday, October 1, 2018

SINTESIS ASAM SALISILAT (Pendekatan Diskoneksi)

Bagi kalian mahasiswa jurusan kimia murni yang sudah belajar kimia organik, baik kimia organik 1, 2, bahkan 3, tahap selanjutnya adalah kalian harus memahami bagaimana suatu senyawa organik itu dibuat atau disintesis. Oleh karena itu biasanya di semester selanjutnya akan ada mata kuliah “Sintesis Organik” atau di beberapa universitas diberi nama “Sintesis Kimia Organik”. Umumnya, hampir semua kampus mewajibkan mata kuliah ini, tapi ada beberapa kampus yang tidak mewajibkan mata kuliah ini. Jadi di beberapa universitas tersebut, mata kuliah Sintesis Kimia Organik hanya diwajibkan untuk mahasiswa dengan peminatan kimia organik.
Metode belajar yang paling sering digunakan adalah pendekatan diskoneksi. Apa itu pendekatan diskoneksi? Pendekatan diskoneksi adalah pemutusan ikatan secara imaginer yang digunakan untuk memahami bagaimana suatu senyawa dihasilkan dari bahan awalnya. Jadi dalam mempelajari sintesis kimia organik, kita diajari untuk mendesain suatu senyawa. Biasanya kita hanya diberi tau bagaimana struktur senyawa targetnya, lalu kita ditugaskan untuk mendesain kira-kira senyawa tersebut disintesis dari senyawa apa, dan bagaimana jalurnya.
Untuk bisa mengetahui jalur sintesisnya, otomatis kita harus paham materi kimia organik yang telah diajarkan sebelumnya. Kita harus paham reaksi-reaksi apa saja yang bisa dilakukan terhadap suatu gugus fungsi dalam satu senyawa. Kita tidak boleh asal mendiskoneksi suatu gugus fungsi sementara kita tidak tau bagaimana jalur sintesisnya. Misalnya, jika kita diberi senyawa toluene. Bagaimana kita bisa mensintesisnya?
Cara pertama yang harus kita lakukan adalah melihat gugus fungsi yang ada dalam senyawa tersebut. Kebetulan dalam toluene hanya ada satu gugus fungsi yaitu metil. Setelah kita tau gugus fungsinya, kita bisa memulai dengan mengingat-ingat reaksi apa yang dapat dilakukan untuk memasukkan suatu gugus metil dalam senyawa aromatik seperti benzene.
Tentu kita sudah familiar bukan dengan Reaksi Alkilasi Friedel-Crafts? Ya, Reaksi tersebut memang biasanya digunakan untuk memasukkan gugus alkil dalam senyawa aromatik. Dengan reagen alkil halide berupa CH3Cl dan AlCl3, kita bisa langsung memasukkan gugus alkil dalam senyawa benzene. Setelah kita dapat mendesain senyawa awal/ starting materialnya dan mendesain jalur sintesisnya, kita harus bisa menuliskan reaksinya dengan simbol-simbol yang telah disepakati ahli kimia di dunia untuk menuliskan analisis dan jalur sintesis suatu senyawa organik.
Terkadang, ada suatu gugus fungsi yang kita tidak bisa langsung memasukkannya dalam senyawa aromatik. Jika gugus fungsi tersebut tidak ada jalur sintesis langsungnya, mau tidak mau kita harus memasukkan gugus lain dulu baru mengubah gugus fungsi tersebut menjadi gugus fungsi yang kita inginkan. Salah satu contohnya adalah gugus amina (NH2). Ketika kita ingin membuat senyawa anilin, kita tidak bisa langsung memasukkan gugus amina dalam senyawa benzene. Maka dari itu, yang kita lakukan adalah memasukkan gugus NO2 (Nitro) dengan reaksi nitrasi, baru mereduksi gugus tersebut menjadi gugus amina. Dalam analisis retrosintetisnya, pengubahan gugus fungsi dikenal dengan istilah Interkonversi Gugus Fungsi (IGF).
Nah, sekarang kita belajar bagaimana mensintesis senyawa aromatik dengan dua gugus fungsi. Kali ini aku mau bahas analisis dan sintesis senyawa Asam Salisilat. Perlu kalian ketahui, satu senyawa sangat memungkinkan memiliki jalur sintesis lebih dari satu. Hal ini karena satu gugus fungsi memang dapat disintesis dengan berbagai cara. Namun pada akhirnya, untuk melakukan sintesis tersebut di laboratorium, hendaknya kita memilih suatu jalur sintesis yang paling sederhana atau mudah dan ekonomis.


Asam Salisilat, Analisis 1:


Sintesis 1:


Analisis 2:


Sintesis 2:


Analisis 3:

Sintesis 3:

Untuk belajar sintesis Asam Salisilat ini, kita harus mengingat gugus-gugus fungsi dan sifat pengarahnya. Apakah gugus tersebut bersifat sebagai pengarah orto dan para, ataukah gugus tersebut bersifat sebagai pengarah meta. Dan perlu dicatat lagi, gugus yang pertama masuk, akan menentukan ke mana gugus selanjutnya akan masuk. Misal kita telah memasukkan gugus hidroksil, maka jika kita ingin memasukkan gugus metil, maka gugus metil akan masuk pada posisi orto atau para terhadap gugus hidroksil tersebut. Sebenarnya, masih ada jalur sintesis lain untuk senyawa Asam Salisilat ini, tapi aku ga akan menampilkan semuanya. Jadi, sisanya, silahkan kalian yang mencoba! Semoga membantu!