Wednesday, January 11, 2012

SEBUAH HARAPAN


Pagi ini Sang Surya datang lebih awal dari biasanya. Hal ini ditandai dengan Adzan Subuh yang berkumandang lebih pagi dari pagi-pagi sebelumnya. Tiara Dewanti pun terpaksa bangun dan mengawali  harinya juga lebih pagi dari biasanya. Hal yang pertama ia lakukan setelah bangun ialah pergi ke kamar mandi untuk membasuh muka dan menggosok gigi. Setelah selesai, barulah ia menjalankan kewajibannya menunaikan shalat Subuh.
Kini waktu telah menunjukkan tepat pukul 05.00 pagi. Ara –panggilan akrab Tiara- bergegas menyelesaikan semua pekerjaan rumahnya, mulai dari menyapu, mengepel, sampai membuatkan teh untuk ayahnya. Semua itu dikerjakan Ara dengan cepat dan tidak bertele-tele. Setengah jam cepat sekali berlalu. Sekarang semua pekerjaan Ara telah selesai, tinggal bersiap-siap untuk mandi dan sarapan pagi bersama seluruh anggota keluarganya.
Hari kedua Ara di kelas XI ini kak Vita, kakak Ara tidak ada di rumah karena sedang kuliah di Jakarta. Suasana rumah Ara pun tidak seramai biasanya. Hanya ada suara Linda -adik Ara-, kedua orang tua Ara, dan tentunya Ara sendiri.  Meskipun begitu, kehangatan dalam keluarga ini tak berkurang sedikitpun.
“Ibu, Ayah, Ara berangkat ya. Assalamualaikum.” Pamit Ara pada kedua orang tuanya. Seperti biasa, Ara berangkat sekolah dengan berjalan kaki karena sekolahnya berada tak jauh dari rumahnya. Dengan berjalan kaki saja, Ara bisa sampai ke sekolahnya dalam waktu lima menit. Ara tak bisa membayangkan begitu singkatnya waktu yang ia butuhkan kalau ia memutuskan berangkat ke sekolah dengan mengendarai motor maticnya.
Hamparan sampah yang berserakan di pinggir jalan, sungai yang sepertinya tidak cocok disebut sungai karena jarang ada airnya, dan pohon-pohon kecil yang tidak indah sama sekali karena daunnya layu sudah menjadi pemandangan yang biasa bagi Ara. Hari ini nampaknya Ara berjalan lebih cepat dari biasanya. Buktinya kurang dari lima menit Ara telah sampai di SMA 1 Kudus, sekolahnya tercinta. Saat sedang asyik berjalan menuju ruang kelasnya, tiba-tiba Ara mendengar ada seseorang memanggilnya.
“Ara…. Ara…. Sini dong !” kedengarannya suara itu sudah tak asing lagi bagi Ara. Ternyata benar. Suara baritone itu keluar dari mulut seorang cowok bertubuh jangkung dengan kulit berwarna kuning langsat yang sejak lahir telah menyandang nama Aprilino Fernando.
“Apa?” tanya Ara datar.
“Dicari Tio.” Jawab Lino –panggilan akrab Aprilino-. Ia terkekeh.
Ara meraskan wajahnya memanas.“Diam Kamu !” bentaknya. Sejurus kemudian Ara langsung meninggalkan sahabatnya yang tengah melongo.
Sial !!! pekik Ara dalam hati. Lagi-lagi ia merasa diingatkan pada sosok Tio Dharma Wijaya yang super kejam itu. Ara akhir-akhir ini memang mudah sekali sensitif jika ada orang membicarakan masa lalunya, TIO ! Menurutnya, membicarakan Tio berarti membuka kembali luka lama yang sebenarnya baru benar-benar sembuh seminggu yang lalu. 
“Ra, Kamu tuh kenapa sih?” Ara sontak terkaget setelah menyadari Lino telah berada tepat di belakangnya.Tanpa menghentikan langkahnya, Ara menatap lekat mata coklat Lino. “Kamu tuh yang  kenapa.”
“Lho gimana sih. Yang tiba-tiba marah kan Kamu.” Jawab Lino. Ia benar-benar bingung dengan sikap Ara pagi ini. Jarang sekali ia marah jika disinggung tentang Tio.
Satu, dua, tiga, empat, lima…. Tak terdengar sepatah kata pun dari mulut Ara. Lino yang sedari tadi hanya diam sambil menatap wajah manis Ara itu pun akhirnya meraih tangan Ara dan memaksa Ara menghentikan langkah kakinya. Ara memang menghentikan langkah kakinya. Namun ia tetap bergeming, diam tanpa kata.
“ARA !!” bentak Lino. Lama-lama kesabarannya pun mulai terkikis.
Semula Ara berniat untuk mengacuhkan bentakan Lino. Sejenak ia pandang wajah Lino dalam-dalam. Tak lama kemudian pikirannya telah melayang ke mana-mana. Aku nggak nyangka ternyata Lino keren juga !!! matanya indah banget, sumpah !!! seulas senyum terlihat di bibir Ara. Tak lama kemudian Ara pun tersadar setelah berpikiran macam-macam pada Lino. Ihh apa-apaan sih !!! pekiknya dalam hati. Ia terus merutuki diri sendiri karena telah berpikiran macam-macam pada Lino. Ia pun mulai merasakan ada rona merah menghiasi pipinya yang chubby. Segera ia palingkan wajahnya dengan maksud agar Lino tidak melihat rona merah di pipinya itu.
“Lepasin !!!” kata Ara dengan nada agak tinggi, dan masih dengan posisi wajah yang membelakangi Lino, serta tangan kanannya yang masih ada dalam cekalan lembut tangan Lino.
“Jelasin dulu dong….” Kata Lino. Namun sepertinya ia belum menyelesaikan kalimatnya. Lino bermaksud ingin melanjutkan kalimatnya dengan membisikkan kata demi kata di telinga Ara. Meskipun Ara tidak bisa melihat Lino. Ia masih bisa merasakan jarak antara dirinya dan Lino semakin berkurang, berkurang, dan berkurang. Kini ia benar-benar merasakan hangatnya nafas Lino di telinga kanannya.
Sungguh ! Ara benar-benar tidak merasakan apa-apa saat ini. Padahal saat ini ia dan Lino hanya dipisahkan pada jarak yang tak lebih dari lima senti. Sampai pada akhirnya Lino membisikkan sepatah kata tepat di telinga Ara. Hanya satu kata. Namun cukup untuk membuat Ara tersentak.
“Sayang?” tanya Ara. Ia mengernyit. Lino hanya membalasnya dengan anggukan kecil yang sepertinya terlihat sangat tulus.
Setengah emosi Ara membalas anggukan Lino. “Sayang, sayang. Pala Lo peyang? Hah?”
“Iya, iya sorry deh.” Jawab Lino lemas. Ia pun melepas cekalan tangannya pada Ara.
“Udah ah. Aku cabut dulu ya ke kelas. Ntar deh pas istirahat pertama Aku jelasin.”
“Oke bos.”`
***
Saat istirahat pertama….
“Jadi gini nih Lin ceritanya. Liburan kemarin, si Mona temen SMP Aku, Kamu inget kan? Nah, dia cerita ke Aku banyak banget soal Tio.Ternyata, malam sebelum Aku mutusin Tio, si Mona tuh SMS Tio. Yah intinya nesehatin Tio lah. Tapi, Kamu tau responnya?” Ara meghentikan sejenak kata-katanya untuk menyeruput es kelapa muda kesukaannya.
“Kamu tau responnya? Nyebelin banget tau. Dia bilang, dia udah nggak punya feel lagi sama Aku. Dan dia udah nggak mau ambil pusing lagi sama Aku. Yieekkh, nggak inget apa dulu Aku minta putus aja susahnya minta ampun. Sebel deh ah !!! Sejak tau masalah itu Aku nggak mau berurusan lagi sama dia !!!” lanjutnya dengan penuh amarah.
Lino menarik nafas panjang dan kemudian menghembuskannya lagi. “Udah udah, lupain aja dia. Lagian Kamu bego banget sih. Kamu….”
“Iya, Aku emang bego. Aku tau kok.” Potong Ara dengan nada rendah. Ara hampir saja meneteskan air matanya. Namun, lagi-lagi ia dibuat kaget oleh Lino dengan pelukannya. Kok Aku jadi deg-degan gini ya? Tanya Ara pada dirinya sendiri.
Sambil mengelus rambut Ara yang panjangnya sebahu itu dengan lembut, Lino mencoba menghibur Ara. “Maafe yo Ra. Kue ora bodho kok. Kamu nggak bego. Aku bercanda. Tio yang bego.” Ucap Lino dengan bahasa Jawanya yang masih kacau.
Sebenarnya Ara merasa nyaman berada dalam pelukan Lino. Tapi ia sadar tak seharusnya ia melakukan hal ini di kantin. Ia tau orang-orang pasti akan berpikiran macam-macam padanya. Segera Ara melepaskan diri dari pelukan Lino, bangkit, dan keluar dari kantin. Tentunya setelah membayar minuman yang telah ia pesan tadi. Sementara Ara terus berjalan selangkah demi selangkah meninggalkannya, Lino malah tetap bergeming. Ia memang sengaja membiarkan Ara pergi.
Lino merasa dirinya sudah bertindak terlalu jauh sebagai sahabat Ara. Ia terus memaki dirinya sendiri. Ia sangat menyesal karena telah gagal mengontrol dirinya sendiri. Bego ! Bego ! Bego ! pekiknya dalam hati. Ia pun berjanji pada dirinya sendiri tak akan mengulangi perbuatannya itu pada Ara. Ia khawatir Ara akan merasa risih padanya dan kemudian menjauhi dirinya.
***
Seminggu telah berlalu, dan kekhawatiran Lino kini benar-benar terjadi. Sejak kejadian di kantin itu Ara tak pernah mememui Lino lagi untuk sekedar curhat padanya. Malahan Ara terkesan menghindar dari Lino. Buktinya, saat Lino berkunjung ke kelas Ara, Ara selalu absen. Maksudnya, Ara selalu berada di luar kelas selama istirahat. Entah di masjid, di perpustakaan, di kantin atas, kantin bawah, koperasi pelajar, ataupun toilet. Selain itu, Ara juga meminta teman-temannya merahasiakan di mana keberadaannya.
Kali ini Lino benar-benar tak mampu lagi menahan rasa rindunya pada Ara. Ia ingin sekali bertemu dengan Ara dan mengobrol berdua seperti biasanya. Ia pun memutuskan akan berkunjung ke rumah Ara setelah pulang sekolah. Ia tak peduli jika nantinya Ara akan bersikap dingin padanya. Asal ia bisa mengobrol berdua dengan Ara itu sudah cukup baginya.
Kini saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Bel pulang sekolah berbunyi dengan nyaringnya. Semula Lino ingin mampir ke kelas Ara terlebih dahulu. Tapi pada akhirnya ia mengurungkan niatnya itu. Ia merasa tak perlu mampir ke kelas Ara. Toh nantinya Aku juga akan bertemu Ara di rumahnya, pikirnya.
“Assalamualaikum…” ucap Lino sopan.
Tak lama kemudian muncul seorang wanita paruh baya yang tentunya sudah tak asing lagi bagi Lino. “Waalaikumsalam. Eh, Lino. Ana apa Lin?” tanya wanita itu dengan bahasa Jawa yang terdengar sangat luwes.
“Anu, Ara sampun rawuh?” tanya Lino dengan pedenya. Wanita paruh baya yang juga merupakan ibu Ara itu hanya tersenyum geli mendengar jawaban Lino. Karena merasa ada yang salah, Lino pun mengulangi pertanyaannya dengan bahasa Indonesia. “Maksud Saya, Ara nya sudah pulang belum Bu?”
Wanita paruh baya itu kini menyunggingkan senyum lagi.“Wah, belum tuh. Masuk dulu Nak. Paling-paling sebentar lagi dia juga pulang.”
“Terimakasih Bu. Saya tunggu Ara di teras saja.”
“Oh begitu. Yasudah Ibu tinggal dulu ya Nak.”
Satu menit, dua menit, lima menit, sepuluh menit… Akhirnya yang ditunggu-tunggu pun tiba di rumahnya. Namun sepertinya Ara tidak sendiri. Ia pulang diantar, TIO !  Lino kaget bukan kepalang melihat Ara pulang diantar Tio. Sebenarnya dia bukan kaget, namun lebih tepatnya kecewa. Ah Aku nih ada-ada aja, gumam Lino pelan. Lino pun memberanikan diri menghampiri Ara dan Tio yang masih berada di depan gerbang.
“Hey Ra, hey Bro.” Sapa Lino. Ia berusaha bersikap setenang mungkin.
Ara menatap Lino dengan alis menyatu. Ia heran, begitu pula Tio. “Kok Kamu disini sih?” Belum sempat Lino membalas ucapan Ara, Tio lebih dulu memotongnya.
“Eh, sorry banget ya Ra Aku nggak bisa nemenin kalian ngobrol. Aku buru-buru. Pamitin ortu Kamu ya.” Potong Tio. Sejenak ia melirik ke arah Lino. “Aku cabut dulu ya Bro.” ucapnya dingin. Tak lama kemudian tubuh cowok berkacamata ini langsung tak terlihat lagi.
“Eh Kamu tuh belum jawab pertanyaanku tau !!” kata Ara memecah keheningan.
“Pelit banget sih Kamu. Aku kan cuma mau main aja. Yaudah mendingan Aku pulang aja deh.” Goda Lino.
“Eh jangan dong. Ntar Aku ngomong apa ke ibu. Tau-tau Aku pulang, dan Kamu udah nggak ada. Kamu kan biasanya kalo main lamaaaaaaa banget. Bisa-bisa ibu mikir Aku udah ngusir Kamu, maki-maki Kamu, dan ngedepak Kamu dari rumah ini.” Cerocos Ara. Lino menyeringai geli.
“Iya iya. Kamu tuh manis juga ya kalo diliat-liat.” Kata Lino spontan. Mendengar ucapan Lino, Ara pun tersentak. Namun bukan hanya Ara yang tersentak. Lino pun juga ikut tersentak setelah menyadari ucapannya sendiri. Cepat-cepat ia meralat ucapannya tadi. “Eh, bercanda.”
Terlihat sekali raut kaget yang tak lama kemudian berganti dengan raut kecewa di wajah Ara. “Yaudah sini masuk.”
Di ruang tamu, Ara dan Lino membicarakan banyak hal. Termasuk tentang hubungan Ara dengan Tio sekarang. Terbesit rasa kecewa dari dalam hati Lino ketika ia mengetahui Ara kembali dekat dengan Tio. Tapi ia merasa bukan siapa-siapa bagi Ara. Ia pun menekan rasa kecewanya itu dalam-dalam.
Dua jam telah berlalu. Setelah menumpang shalat Ashar Lino pun berpamitan pada kedua orang tua Ara. Saat di perjalanan pulang, tak jauh dari rumah Ara, Lino melihat Tio menggandeng seorang cewek dan memasuki sebuah toko. Ia mencoba mengingat-ingat kembali siapa cewek itu. Dan akhirnya, Ting !!! muncul sebuah lampu yang sedang menyala terang di atas kepala Lino. Dea ! Pekiknya. Segera ia menelepon Ara dan meminta Ara untuk datang ke tempat itu. Tak lama kemudian Ara datang dengan mengendarai motor matic kesayangannya.
“Kamu ngapain nyuruh Aku ke sini? Kamu nggak kenapa-napa kan?” tanya Ara panik.
“Yuk cabut ke toko itu.” kata Lino. Ia sama sekali tidak merespon pertanyaan Ara.
Sejenak kening Ara mengkerut, namun tak lama kemudian kembali rileks. “Kamu gimana sih. Ogah ah. Aku balik. Aku kira Kamu kenapa-napa.”
“Kamu takut ya Aku kenapa-napa?” Tanya Lino dengan ekspresi menggoda.
“Ya…. iyalah.” Ara kini mulai terlihat gugup. Hal ini membuat Lino semakin ingin menggoda Ara. “Trus?” Tanya Lino. Ia tertawa geli melihat kegugupan Ara.
“Udah deh ah. Kamu kan emang temen Aku. Jadi wajar dong kalo Aku takut Kamu kenapa-napa.” Jawab Ara. Ia berusaha menyembunyikan kegugupannya.
Belum sempat masuk ke toko yang mereka tuju, Tio dan Dea lebih dulu keluar dari toko itu. Untung saja Lino bertindak cepat. Lino menarik tangan Ara dan kemudian bersembunyi di balik pohon. Mereka mengamati setiap gerak-gerik Tio dan Dea. Tio dan Dea terlihat sangat mesra. Sepertinya setiap orang yang melihat mereka pasti akan merasa iri. Tangan kanan Tio merangkul bahu Dea sambil sesekali mengelus rambut Dea yang hitam panjang itu. Bukan hanya itu, Tio juga sesekali mencium tangan dan kening Dea.
Ara tersenyum kecut melihat tingkah laku Tio dan Dea. Ia berusaha menahan tangisnya. Hatinya kini benar-benar hancur. Ia menyesal telah memaafkan Tio. Ia menyesal telah mempercayai Tio lagi. Ia menyesal telah membiarkan Tio kembali melukai hatinya lagi. Ia menyesal telah jatuh cinta pada Tio. Ia menyesal telah mengenal Tio. Hanya penyesalan yang menyelimuti dirinya saat ini.
“Mereka balikan ya Lin?” Tanya Ara pelan.
“Udah, nggak usah dipikir. Yang penting Kamu tau. Kita pulang yuk.” Ajak Lino. Dan mereka pun kembali ke rumah Ara.
Setibanya di rumah Ara, Lino hanya mengantarkan Ara sampai ke teras. Sebenarnya ia masih ingin bersama Ara. Ia ingin menghibur Ara. Ia tak ingin sahabatnya terlalu lama terlarut dalam kesedihan. Ia ingin sekali memeluk Ara. Tapi ia sudah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan melakukan hal itu lagi pada Ara. Setelah sampai di teras, Lino pun segera berbalik.
“Lin.” ucap Ara pelan. Benar-benar pelan sampai Lino pun tak bisa mendengar. “Lino !” Ara mengulang lagi ucapannya dengan nada lebih tinggi.
Lino menoleh. “Apa?”
“Aku butuh sandaran. Kamu nggak mau peluk Aku lagi?” Jawab Ara. Mendengar jawaban Ara, mata Lino langsung terbelalak. Alisnya yang tidak terlalu tebal naik beberapa mili.  
“Aku, peluk, Kamu?” Tanya Lino meyakinkan. Ara hanya menjawab dengan senyuman manis dan anggukan kecil. Tanpa basa-basi Lino pun memeluk erat tubuh Ara. Saat memeluk Ara, Lino merasakan sesuatu yang aneh terjadi padanya.
Sekali lagi alis tebal Ara terlihat menyatu.  “Lin, kok Kamu deg-degan gini sih?” Lino bingung. Ia tak tau harus menjawab apa. Setelah berpikir cukup lama, ia pun memutuskan untuk menceritakan semuanya pada Ara.
“Aku juga bingung Ra. Setiap Aku ketemu Kamu tuh bawaannya deg-degan terus. Nah, giliran setiap Aku nggak ketemu Kamu, bawaannya tuh pengeeeen banget nemuin Kamu. “ Jawab Lino jujur.
“Tunggu, tunggu. Kamu suka sama Aku?” Tanya Ara dengan polosnya.
“Iya kali ya.” Jawab Lino. “Trus?” lanjutnya.
“Trus apanya?”
“Aku boleh nggak gantiin posisi Tio di hati Kamu? Maksudnya, Kamu mau nggak anggep Aku ini layaknya Tio?” Tanya Lino dengan ekspesi duarius –serius sekali-.
“Gimana yaaaaaa….” Goda Ara. “Mmmm…. Iya deh.”
“Bener nih? Yaudah sekalian aja Aku jadi cowok Kamu, gimana?”
“Ihh, Kamu tuh ya pake nanya segala. Ya pasti Aku mau lah.”
Lino benar-benar kaget mendengar ucapan Ara. Wajahnya yang kusam karena belum mandi kini terlihat segar dan berseri-seri lagi. “Asal Kamu tau, udah lama Aku suka sama Kamu. Tapi Aku menghargai Kamu sebagai sahabatku. Jadi Aku nggak pernah berani macem-macem sama Kamu.” Jelas Lino.
“Emangnya Kamu aja. Meskipun Aku selalu bilang ke Kamu bahwa hati Aku ini udah dipenuhi Tio, tapi Aku ngerasain yang sebaliknya. Aku emang takut kehilangan Tio, tapi Aku lebih takut lagi kalo kehilangan Kamu. Awalnya sih Aku pikir karena Kamu sahabatku. Jadi Aku nggak pernah mau ambil pusing soal perasaanku ke Kamu. Tapi akhir-akhir ini Aku ngerasa bukan itu alasannya. Dan Aku baru yakin lima menit yang lalu kalo Aku juga suka sama Kamu.” Jelas Ara panjang lebar.
Ara memang tak mendengar Lino mengucapkan sepatah kata pun padanya. Tapi Ara masih bisa merasakan Lino mempererat pelukannya. Ara berharap, pelukan ini akan ia rasakan besok, besoknya,  besoknya lagi, dan besoknya lagi, sampai selamanya. Setidaknya hanya itu harapan Ara saat ini.
“Jangan pernah tinggalin Aku ya Ra.” Ucap Lino pelan.

Thursday, September 22, 2011

A CASEERELLA STORY (PART 2)


Samantha berlari di koridor sekolah, berusaha mengejar Casseel yang berada di depannya. Merasa seperti dikejar seseorang, Casseel mempercepat langkah kakinya. Samantha yang merasa lelah karena mengejar Casseel pun akhirnya memilih berteriak memanggil nama Casseel dengan sisa-sisa tenaganya.
“C A S S E E L !!!” teriak Sam.
Casseel tetap tidak menoleh.  Dia hanya berhenti melangkahkan kakinya dan menebak-nebak siapa yang memanggilnya. Sam yang melihat Casseel berhenti pun langsung berlari mendekati Casseel.
“Kau memang pelari yang hebat Cassa, huh.” Sindir Sam.
“Oh ya? Padahal ibuku berkata aku ini tak cocok jadi pelari. Jawab Casseel dengan polosnya.
“Sudahlah…. Oh iya, apa kau mau tinggal di rumahku? Kau bisa tidur di kamar tamu.” Ajak Sam.
“Untuk apa? Kita kan sudah punya rumah sendiri-sendiri.”
“Rumahmu kan jauh. Bisa-bisa kau terlambat.”
“Ya mau bagaimana lagi? Kalau aku tinggal di rumahmu Lauren pasti akan semakin membenciku.”
“Hei, dia sudah berusia 15 tahun. Dulu memang dia membencimu. Tetapi itu karena dia masih kecil dan tak mengerti apa-apa.”
“Kau serius adikmu telah berubah?” Pertanyaan Casseel dijawab dengan anggukan oleh Sam.
“Baiklah. Aku akan meminta ijin pada ibuku nanti.”
Sebenarnya Casseel merasa ragu-ragu untuk tinggal di rumah Samantha. Masalahnya, adik Sam yang bernama Lauren, dulu sangat membenci Casseel. Entah apa sebabnya, yang jelas dulu Lauren pernah berkata bahwa Casseel terlalu cantik untuk jadi saudaranya. Sepertinya Lauren iri padanya. Oleh karena itu, Casseel berharap kata-kata Sam bisa dipercaya.
Setibanya di rumah, Casseel langsung meminta ijin pada ibunya untuk menginap di rumah Samantha sampai ia lulus dari Astamevia. Tanpa pikir panjang Mrs. Auguste pun mengijinkan anak semata wayangnya tinggal di rumah unclenya. Setelah mendapat ijin dari ibunya, Casseel pun langsung membereskan barang-barangnya, dan memasukkannya ke dalam koper.
Kini Casseel telah selesai membereskan barang-barangnya. Ia pun memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil Mrs. Auguste. Sebenarnya Casseel tidak ingin ibunya repot-repot mengantarnya. Tapi ibunya memaksa ingin mengantarkan Casseel sampai ke rumah uncle Joe. Akhirnya, Casseel pun  pasrah ketika Mrs. Auguste mengantarnya ke rumah uncle Joe.
Sesampainya di rumah uncle Joe, Mrs. Auguste langsung membuka pintu bagasi, membantu Casseel mengeluarkan barang-barangnya dan setelah itu langsung pulang kembali. Mrs. Auguste tidak ikut masuk ke rumah uncle Joe karena ia sedang buru-buru. Saat di perjalanan ia baru ingat bahwa hari ini ia sudah ada janji dengan teman kuliahnya dulu. Oleh karena itu Mrs. Auguste hanya melambaikan tangan pada keluarga uncle Joe yang baru saja keluar dari rumahnya karena menyadari kehadiran Mrs. Auguste dan Casseel.
Keluarga uncle Joe menyambut Casseel dengan baik, begitu pula Lauren. Nampaknya Lauren benarbenar telah berubah. Tatapannya tak lagi tajam setajam pisau. Empat tahun tak bertemu keluarga uncle Joe membuat Casseel merasa aneh tinggal bersama mereka.
“Hei Casseel….” Sapa Lauren sambil mengulurkan tangannya.
“Oh…. Hai Lauren.” Jawab Casseel, dan mereka berdua pun berjabat tangan.
“Menurutmu, bagaimana penampilanku sekarang?” Tanya Lauren.
“Kau ini aneh Lauren. Kau tidak perlu bertanya seperti itu padaku. Kau cantik.”
“Tapi aku tak lebih cantik darimu.”
“Siapa yang berkata seperti itu? Lauren, kau…”
“Aku yang berkata seperti itu, bodoh !” potong Lauren.
“Lauren, cantik itu tergantung bagimanaa setiap orang menilai kita.” Jawab Casseel santai.
“OK. Terserah apa katamu.” Lauren keluar dari kamar dengan membanting pintu lagi-lagi Lauren membuat Casseel tak nyaman dengannya. Tapi Casseel berusaha bersikap lebih dewasa dengan melupakan apa yang baru saja terjadi.
***
Tak terasa, seminggu cepat sekali berlalu. Itu berarti Casseel sudah tinggal di rumah Sam selama seminggu. Meskipun tinggal satu rumah dengan Sam, Casseel tidak pernah berangkat bersama Sam. Casseel merasa tidak enak pada keluarga uncle Joe. Ia merasa sudah banyak merepotkan. Jadi ia tidak mau membuat keluarga uncle Joe semakin kerepotan.
Uncle Joe sendiri merasa tidak enak membiarkan Casseel berangkat sendiri. Selama ini ia terpaksa membiarkan Casseel berangkat sendiri menggunakan bus karena Casseel yang memaksanya. Lama-lama uncle Joe semakin merasa tidak enak pada Casseel. Oleh karena itu, ia memutuskan mulai hari ini Casseel harus berangkat bersama Sam dan Lauren. Semula Casseel menolaknya. Tapi setelah uncle Joe meyakinkan Casseel bahwa ia sama sekali tidak kerepotan mengantar Casseel, Casseel pun bersedia berangkat bersama Sam dan Lauren.
Setibanya di sekolah….
“Hei Sam, Hei Casseel, sejak kapan kalian mulai berangkat bersama?” Tanya Anderson.
“Dasar orang aneh.” Kata Casseel tanpa menghiraukan pertanyaan Anderson. Sam yang mendengar perkataan Casseel pun menyenggol bahu Casseel. “OhmiGod, Sam.” Kata Casseel. Sam tidak merespon. Ia hanya melirik Casseel.
“Maafkan sepupuku ini Anderson.” Kata Sam.
“Sepupu?” Tanya Anderson. Keningnya berkerut.
“Ya, kau baru tau ya? Dan sejak seminggu yang lalu dia menginap di rumahku.” Jelas Sam.
Casseel hanya diam dan mendengarkan percakapan Samantha dengan Anderson. Ia sama sekali tak ingin mencampuri urusan mereka berdua. Bukan! sebenarnya bukan itu alasannya. Casseel hanya diam mematung karena tak ingin berurusan dengan Anderson yang, cukup, aneh –menurutnya-. Selesai mengobrol dengan Sam, Anderson langsung mencengkeram erat tangan Casseel dan menarik Casseel menuju ke bangkunya.   
“Duduklah sebangku denganku.” Pinta Anderson.
“Anderson, lepas tanganku! Apa yang kau inginkan sebenarnya? Dapatkah kau berhenti menggangguku?” Tanya Casseel.
“Apa kau benar-benar tak ingin berkawab denganku?” Andesron balik bertanya.
“Ya. Selama seminggu ini, setiap pagi, Kau selalu menyapaku. Sebenarnya itu hal wajar. Yang tak wajar adalah Kau selalu mengajakku bercanda dengan gurauanmu yang menurutku aneh. Maaf Aku tak bermaksud menyakiti hatimu.”
“OK. No Problem.” Seketika Anderson pergi meninggalkan Casseel. Ada perasaan bersalah yang menyelimuti Casseel. Casseel tau Anderson tak bermaksud buruk. Tetapi entah kenapa Casseel tak suka dengan tipe pria seperti Anderson. Casseel merasa, dia belum kenal Anderson. Casseel takut kalau Anderson jatuh cinta padanya. Casseel merasa belum siap untuk sakit hati. Maka dari itu, sampai usianya 16 tahun seperti sekarang ini, dia masih ragu untuk membuka hatinya pada siapapun.
Casseel tak menyangka, perkataannya pada Anderson akan berkibat fatal. Tunggu dulu? Ini tak berakibat fatal. Aku harusnya senang. Anderson tak menggangguku lagi. Casseel bertanya-tanya dalam hatinya. Apa yang sedang terjadi? Kenapa sekarang setiap ia melamun yang teringat hanyalah Anderson, Anderson, dan Anderson. Apa mungkin?
***
Setiap hari Minggu Anderson selalu berlatih pacuan kuda bersama sahabat lamanya, Fredy. Dia telah mengenal Fredy sejak duduk di bangku SD. Mereka memang bukan teman satu sekolah sejak SMP. Tetapi mereka bisa menjaga persahabatan mereka sampai detik ini.
Disela-sela latihan, mereka tak jarang saling bertukar cerita. Masalah apapun selalu mereka pecahkan bersama. Persahabatan yang erat bukan berarti bebas dari masalah. Mereka pernah terlibat cinta segitiga bersama Valleri. Karena Anderson tak ingin masalah menjadi semakin rumit, Anderson merelakan Valleri menjadi milik Fredy. Setali tiga uang dengan Anderson, Fredy lebih memilih persahabatan mereka. Merasa dipermainkan, Valleri pergi dan menjadi kekasih James, sahabatnya. Sampai saat ini Valleri sepertinya masih berharap pada Anderson. Di sekolah, Valleri masih sering berkunjung ke kelas Anderson. Tetapi, seperti menggarami air laut, semuanya sia-sia. Anderson tak lagi tertarik padanya.
“Hei…” sapa Fredy.
“Ah Kau… mengagetkan saja.” Balas Anderson.
“Wow, gadis itu memang hebat. Seorang Anderson bisa dibuatnya jatuh hati.” Kata Fredy sambil menggoda.
“Hahaha… Tapi aku sedang menjauhinya.”
“Kenapa harus Kau jauhi?”
“Pertama, berteman saja dia tak mau.”
“Kau baru satu bulan kenal dengannya. Kau belum tau sifat aslinya bukan? Mungkin saja dia alergi dengan orang baru.”
“Kau yakin?”
“Sangat yakin.”
“Sempurna. Terimakasih Bung.” Kata Anderson dan disambut tawa oleh Fredy.
Beragam ide seketika muncul dalam benak Anderson. Sungguh, dalam hatinya yang paling dalam dia merasa sangat rindu pada sosok gadis bernama Casseel. Sudah dua minggu dia menjauhi Casseel. Anderson berharap, masih ada celah di hati Casseel untuk sekedar berteman dengannya.
Setelah selesai latihan, Fredy mengantarkan Anderson untuk membeli kado sebagai permintaan maaf. Anderson memesan sebuah kotak music, yang jika dibuka akan ada suara music dan ada tulisan Casseel di dalamnya. Anderson berharap Casseel tak langsung membanting kotak music ini. Paling tidak Casseel akan meletakkannya di dalam lemari agar tidak rusak.
***
“Hai Anderson… lama tak ngobrol denganmu.” Sapa Casseel tiba-tiba. Anderson yang melihat langsung kejadian tersebut merasa kaget dan tak bisa berkata apa-apa.
“Anderson? Hey, what’s going on?” Tanya Casseel bingung. “A N D E R S O N!!!” kesabaran Casseel mulai hilang.
“Hah? Iya?” jawab Andersoon dengan gugup.
“Haruskah Aku meminta maaf padamu atas apa yang terjadi selama ini?”
“Kau? Harusnya Aku yang meminta maaf padamu.”
“Tidak. Aku yang mengawali pertengkaran ini.”
“Casseel, Aku yang harus minta maaf.”
“Sudahlah, anggap saja semua masalah selesai.” Kata Casseel dengan bijak. Ia pun pergi meninggalkan Anderson tanpa berkata apa-apa. Dia hanya berharap Anderson memanggilnya dan mengajaknya bercanda. Akan tetapi, Anderson yang masih tak percaya dengan apa yang terjadi malah duduk sambil tersipu malu.
Siang harinya, setelah semua kegiatan di Astamevia selesai, Anderson langsung menuju ke tempat parkir di mana mobil Ferrarinya beristirahat sepanjang pagi hari ini. Anderson mengambil sebuah kotak berwarna pink dengan pita berwarna merah dan langsung menuju ke pintu gerbang.
Di pintu gerbang, Nampak Casseel dan Samantha sedang bergurau sambil menunggu jemputan. Anderson tak mau kehilangan banyak waktu, oleh karena itu dia langusng berjalan ke arah Casseel dan berbicara kepadanya.
“Casseel, Aku tau semua masalah kita sudah selesai. Akan tetapi Aku merasa masih ada yang kurang. Tolong, terimalah kado ini sebagai tanda permintaan maafku.” Kata Anderson sambil menyerahkan kotak berwarna pink itu.
“OK. Aku harap kau tak bertingkah aneh lagi setelah ini.” Jawab Casseel dengan suara lantang.
“Sure. Akan kuusahakan. Oh iya, apa kalian bersedia ku antar?” tawar Anderson.
“Sam, lelaki ini menawarkan tumpangan menuju ke rumahmu. Apa Kau bersedia?” Tanya Casseel kepada Samantha.
“OK. Boleh juga. Rumahku ada di Oxford Street.” Jawab Samantha.
“Baiklah. Kalian tunggu di sini sebentar. Akan ku ambil mobilku.”
Setelah mengantarkan Samanthya dan Casseel, Anderson menelepon seseorang yang sepertinya penting. Mereka terlibat dalam percakapan yang cukup serius. Setelah Anderson menutup teleponnya, lima menit kemudian ada seorang lelaki dengan pakaian rapi dating menemui Anderson. Lelaki itu memperlihatkan tiga pucuk surat pada Anderson. Setelah itu Anderson pergi dan lelaki itu menyerahkan surat-surat tersebut pada Mrs Joe.

Friday, June 17, 2011

A CASEERELLA STORY (PART 1)

Pagi ini nampaknya matahari muncul lebih awal dari biasanya. Seolah ingin menunjukkan ada kebahagiaan dengan pancaran sinarnya yang terang. Begitu pula dengan suasana kota Savera yang tentram dan damai. Hari ini Anderson berangkat lebih awal dari biasanya. Dengan menyetir mobil Ferrarinya, Anderson berangkat ke Astamevia High School tepat pukul 06.00. dengan kecepatan super, jarak 15 km dapat ditempuhnya hanya dalam tempo 10 menit.
                “Pagi Elina, Sam, dan kau…?” sapa Anderson dengan menunjuk seorang siswi yang duduk di pojok depan.
                “Noel, iya, Noel namanya.” Teriak salah satu siswa yang disambut dengan tawa seluruh siswa.
                “No… Aku bukan Noel. Uhm, memang benar namaku Cassandra Selenoel. Tapi teman-temanku memanggilku Casseel.”
                “Wow… Kau baru di sini?” Tanya Anderson pada Casseel.
                “Ya. Dan aku merasa tak diterima oleh semua siswa di sekolah ini.” Jawab Casseel.
                “Mungkin hanya perasaanmu saja.”
***
                “Apa menurutmu Mrs. Aleciandra membosankan, Case?” Tanya Anderson pada Casseel.
                “Casseel.” Kata Casseel membenarkan.
                “Oh, ya. Casseel.”
                “Tidak. Menurutku Mrs. Aleciandra sangat menarik.”
                “Apa yang menarik darinya?”
                “Cara mengajarnya. Kurasa dia adalah guru paling ramah. Sepanjang hari ini.”
                “Hei, kau salah. Kurasa Mr. Potato dan Mr. Tomato jelas lebih menarik.”
                “Well, terserah apa katamu. Aku malas berdebat denganmu.”
                Mimpi apa aku semalam? Gerutu Casseel. Casseel merasa sikap Anderson sangat menyebalkan. Maksudnya, mungkin jika Casseel adalah siswa lama di Astamevia hal itu merupakan hal yang biasa. Tapi Casseel baru sehari berada di sekolah itu. Menurutnya, Anderson sok akrab dan aneh.
                Sepertinya pendapat Casseel bertolak belakang dengan Anderson. Anderson merasa Casseel adalah gadis yang cantik, baik, dan sopan di Astamevia. Bahkan melebihi Valleri yang notabene adalah mantan kekasihnya.
                “Halo, iya benar. Ohh, sebentar ya.” Mrs. Auguste mengangkat telepon dan berbicara dengan anggunnya. “Casseel… ada telepon dari Emmanuel.”
                “Iya ma.” Jawab Casseel. “Halo. Hei kau. Bagaimana kabarmu ?”
                “Lumayan. Casseel, aku butuh bantuanmu. Bisa kia bertemu sekarang?” pinta Emmanuel.
                “OK, baiklah. Di mana kita bisa bertemu?”
                “Rose Resto. Menurutmu?”
                “Keren. Aku sangat suka makanan di sana.”
                “Kutunggu.”
                Casseel merasa bingung. Ada apa dengan Emmanuel. Jarang sekali dia membuat janji sangat mendadak. Karena Emmanuel adalah teman baiknya, Casseel tak tega menolak permintaan Emmanuel. Mereka pun bertemu di Rose Resto sesuai dengan perjanjian.
                “Ya Tuhan, kau? Emmi?” kata Casseel dengan ekspresi takjub.
                “Hei berhenti memanggilku Emmi. Aku pria berusia 17 tahun. Bukan lagi anak berusia 7 tahun.” Protes Emmanuel.
                “Uhm… maaf kawan. Kupikir ada yang berbeda dari penampilanmu.”
                “Yaa… semakin menawan bukan? Kau harus tau. Banyak orang yang berkata seperti itu. Oh iya, kurasa kau juga cantik hari ini.”
                “Oke langsung ke persoalan saja. Mengapa kau memintaku datang kemari?”
                “Kau mau ikut denganku? Ke Messiu City?” Tanya Emmanuel.
                “Apa? Jauh sekali. Untuk apa kau ke sana?”
                “Belajar. Bersekolah. Ayolah Casseel…”
                “Apa kau tak tau? Aku baru saja pindah dari Golden. Aku baru satu hari di Astamevia.”
                “Apa? Jadi kau sudah pindah? Kenapa kau pindah?”
                “Entahlah. Ayahku yang menyuruh aku pindah. Kau sendiri?”
                “Hey lady… Messiu City !!! kau lupa? Baiklah aku rasa kita tak bisa sering bertemu lagi.”
                “Hey, no problem Em. Kita kan bisa berkirim email, chatting, dan bertelepon. Lagipula bukankah sejak lulus dari Alatas kita sudah beda sekolah. Kau telah terbiasa meneleponku setiap 2 minggu sekali.”
                “Aku akan sangat merindukanmu Casseel.”
                “Aku juga. Kita telah bersahabat selama 11 tahun. Kau sangat berarti buatku.” Tak sengaja setetes air keluar dari mata Cassel. Melihat sahabatnya menangis, Emmanuel merasa semakin sedih dan dengan lembut ia menghapus air mata Casseel serta memeluknya dengan erat. Semua orang yang melihat mereka berdua pasti mengira mereka adalah sepasang kekasih. Padahal mereka adalah sepasang sahabat yang selama 11 tahun bersama-sama.
                Casseel dan Emmanuel saling mengenal sejak mereka duduk di bangku Kindergarten. Setelah mereka lulus dari bangku Kindergarten, mereka memasuki Elementary School dan Junior High School yang sama. Namun setelah lulus dari JHS, Casseel melanjutkan pendidikannya di Golden High School, sedangkan Emmanuel melanjutkan pendidikannya di Silvester High School. Casseel sangat peduli pada Emmanuel, begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu Casseel tak kuasa menahan air matanya saat mengetahui kawannya akan pindah ke Messiu City yang jaraknya berpuluh-puluh mil dari Savera.
***
                “Hai Casseel… Bagaimana keadaanmu?” Tanya Anderson.
                “Apa aku terlihat sakit?” Jawab Casseel dengan nada sinis.
                “Emm… Tidak juga. Baiklah kalau begitu. Senang melihatmu.”
                Sepertinya hari Selasa ini tak jauh berbeda dengan hari Senin kemarin. Casseel mendapat sapaan yang menurutnya cukup unik. Dia memang tak begitu nyaman dengan sikap Anderson yang sok kenal. Mengetahui hal tersebut, Samantha yang merupakan penggemar berat Anderson mencoba menegur Casseel atas sikapnya pada Anderson.
                “Casseel…” Panggil Sam.
                Tetapi Casseel yang dipanggil sama skali tak mendengar ada suara apapun.
                “Casseeeeeelll !!!” Sam mencoba memanggil dengan suara lantang.
                “Wow… iya… siapa yang memanggilku?”
                “Samantha.”
                “Samantha? My cousin? Apa kau putri uncle Joe?”
                “Siapa kau? Memanggil ayahku dengan sebutan uncle?”
                “Aku seupupumu Sam. Apa kau lupa?”
                “Casseel? Tungu. Namamu Cassandra?”
                “Iya. Dan kau memanggilku Cassava. Ingat?”
                “Ya Tuhan… Sudah lama kau tak berkunjung. Karena itulah aku tak mengenalimu.”
                “Tak apa Sam. Oh iya, apa yang ingin kau sampaikan tadi?”
                “Emm… Ah… Aku lupa dik Cassa.”
                “Hahaha. Kau ini aneh Sam.”
                Lagi-lagi Casseel menganggap Samantha bertingkah aneh. Sepertinya Casseel akan menganggap semua orang aneh di matanya. Entah apa yang ada di pikiran gadis cantik berambut hitam itu, sehingga semua orang yang mengajaknya berbicara menurutnya adalah orang aneh. Padahal yang pantas dijuluki aneh adalah dirinya sendiri yang telah menganggap semua orang aneh.
***

I LOVE INDONESIA (PART 2)

Seminggu kemudian, entah siapa yang memulai dan entah apa penyebabnya, terjadi keributan antara Aline dan Elina. Elina masih tetap kasar seperti dulu. Tetapi kali ini dia sudah menunjukkan bahwa ada peningkatan di dalam dirinya. Biasanya, dalam seminggu, di bisa berbuat onar lebih dari lima kali. Tetapi kali ini berbeda, dalam seminggu dia baru berbuat onar sekali saja.
            ” Okay Miss known all. I don’t know why you always make up story. Aku bahkan merasa tidak punya dosa ataupun salah padamu. Why ?” Tanya Elina dengan nada tinggi.
            “ Gue nggak suka loe ngegantiin posisi gue sebagai orang terpopuler di sekolah ini. Dan loe, loe nggak usah ngomong pake bahasa bule loe itu deh. Semua orang juga tau, kalo loe dari Singapura.” Jawab Aline juga dengan nada tinggi.
            “ Listen to me, Aline. Tanya sama semua siswa di sekolah ini. Apa mereka merasa bahwa Elina Woods adalah trendsenter populer di sekolah ini yang telah menggantikan posisi Aline Septiana?”
            ” Maksud loe ?”
            ” Maksudku, aku tidak merasa telah menggantikan kepopuleran kamu di sekolah ini. Dan menurutku, teman-temanmu juga merasa begitu. Sudahlah, jangan membuat emosiku semakin meledak-ledak.”
            ”Bullshit loe !!”
            ” Apa ?? Jaga ya bicaramu !” bentak Elina sambil mendaratkan tangannya di pipi kanan Aline.
            Emosi Elina kini semakin meledak-ledak. Bahkan Elina juga telah berhasil mendaratkan tangannya di pipi kanan Aline sampai-sampai Aline jatuh di depan semua siswa. Melihat keramaian di lorong sekolah, guru-guru datang menghampiri keramaian tersebut. Para guru yang mengetahui hal tersebut langsung menyuruh semuanya bubar kecuali Aline dan Elina. Aline dan Elina mendapat bimbingan konseling dari guru BK, dan masing-masing mendapat hukuman membuat artikel tentang ilmu sosial sebanyak 10 artikel.
Disaat Aline dan Elina sedang mengerjakan tugasnya di perpustakaan, Bella dan Gandhi sedang mengobrol di ruang kelas X-3. Gadhi secara terang-terangan mengaku pada Bella kalau ia menyukai Elina. Gandhi bahkan meminta Bella agar mau menjadi mak comblang untuk dirinya dan Elina. Karena Bella memang teman yang baik, ia pun berjanji akan berusaha membantu Gandhi semampunya.
”Bel, temen baru loe yang namanya Elina itu baik nggak sih?” tanya Gandhi penasaran.
”Emm, Elina?” Bella bertanya balik. Gandhi pun menjawabnya dengan mengangguk pelan. ”Baik sih. Cuman dia kadang gampang banget naik darah. Gue juga bingung. Sebentar-sebentar baiiik banget, tapi sebentar-sebentar juga galaknya minta ampyun.” lanjutnya.
”Loe mau nggak bantuin gue ?” tanya Gandhi.
”Bantuin.... tunggu !! biar gue tebak. Loe mau gue jadi mak comblang loe sama dia kan ?” kata Bella.
”Hehe, udah ketebak ya..” jawab Gandhi malu-malu.
”Yaudah, gue bantuin deh. Sekarang gue mau ke perpus nyusulin dia. Loe mau ikut nggak?”ajak Bella.
”Nggak usah deh. Jangan lupa yaa bantuin gue.”
”Iya iya.”
Sekarang Elina telah menyelesaikan hukumannya membuat 10 artikel ilmu sosial. Karena telalu semangat mengumpulkan tugas tersebut, Elina pun berlari menuju ke Ruang BK. Di tengah jalan ia melihat Bella yang sedang menuju ke perpustakaan. Pandangannya kini terfokus pada sosok Bella seorang. Ia berusaha memanggil-manggil Bella agar Bella tau dia sudah tidak ada di dalam perpustakaan lagi. Karena Elina hanya terfokus pada sosok Bella, ia jadi tidak memperhatikan jalan yang ia lalui. Tiba-tiba, BRAKK !!
”Aww... I’m so sorry boy. Aku tak sengaja buat melukai kamu.” kata Elina dengan wajah panik.
”Hahaha, loe nggak ambil kursus bahasa Indonesia ya? Bahasa loe ancur banget tau.” Jawab laki-laki itu. Laki-laki itu terkekeh mendengar ucapan Elina. Laki-laki itu adalah Galih, siswa kelas X-3.
”Kursus? Indonesian? OMG. I don’t like it.”
”Suka nggak suka loe kan harus bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.”
”Kan ada waktu. Aku bisa belajar sendiri.” Jawab Elina. Lagi-lagi Galih terkekeh mendengar ucapan Elina.
”Yaudah deh. Terserah loe. Kalo loe butuh bantuan tinggal ngomong aja ke gue.”
”Really?”
”Tampang gue keliatan mirip penipu ya?”
” Eng-gak kok. Thanks ...” Jawab Elina sambil mengernyitkan dahi.
”Galih, nama gue Galih. Dan loe pasti Elina.”
”Yeah. Sudah dulu ya. Ini mau ngumpulin tugas.”
”Okee”
Setibanya di kelas, Bella langsung menghampiri Elina dan bertanya banyak hal pada Elina.
”Hey El. Gimana hukumanmu tadi? Aline masih marah padamu?” tanya Bella basa-basi.
”Ahh... Please, don’t ask me anything bout her.” jawab Elina.
”Ohh, OK. Ngomong-ngomong kamu udah punya pacar nggak sih?” Bella mulai masuk ke inti pembicaraan.
”Pacar?” Elina mengernyitkan dahi. ”Same with boyfriend?” lanjutnya.
”Ya, tepat sekali !! Anda berhak mendapat nilai 100.” canda Bella.
”Hahaha, you’re funny Bella. Eng-gak, aku tidak punya. Memang kenapa?” Jawab Elina. Ia terperangkap oleh joke Bella.
”Emm, ada cowok kelas X-3 yang nasir kamu. Inisialnya G.”
”Oh ya? Kok tau?”
”Dia sendiri yang ngomong. Kamu mau nggak kenalan sama dia? Atau kamu udah kenal?”
”Sepertinya aku sudah mengenalnya.”
”Wow, beruntung banget dia. Terus respon kamu gimana?”
”I dunno. Let it flow aja.”
 Elina sangat senang mendengar kabar dari Bella tadi. Ia pikir yang dimaksud Bella adalah Galih karena Galih memang berasal dari kelas X-3 dan yang paling membuat Elina yakin adalah inisialnya G. Ia tak tau bahwa yang dimaksud Bella ialah Gandhi dari kelas X-3. Sekilas terdengar sama, namun tak serupa. Rupanya, pertemuan singkat tadi pagi telah membuat Elina jatuh hati pada cowok tampan berbadan ideal ini.
Sorenya, saat Elina sedang bersantai di halaman belakang rumahnya tiba-tiba ponsel Elina berbunyi, pesan dari Bella.
Mr. G is waiting for you.
Temui dia di taman belakang sekolah, goodluck hunny.
Setelah membaca pesan dari Bella, Elina bergegas pergi menuju taman belakang sekolah. Di tengah jalan, Elina bertemu dengan Aline dan teman-temannya satu geng yang sedang kebut-kebutan. Ternyata bukan hanya Elina yang melihat Aline, tapi Aline juga menyadari akan keberadaan Elina. Aline segera melajukan motornya mendekati mobil Elina. Namun malangnya, saat berusaha mendekati Elina, tiba-tiba dari arah lain muncul kendaraan dan terjadilah kecelakaan itu.
Tanpa diperintahkan oleh siapapun Elina menghentikan laju mobilnya dan memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Segera ia menyuruh orang untuk membawa Aline masuk ke dalam mobilnya.
Sekarang Elina telah sampai di RS. Elisabet, Aline juga telah mendapatkan perawatan di ruang UGD. Elina menunggu Aline di luar ruang UGD. Saat menunggu Aline, tiba-tiba ia teringat akan janjinya bersama Mr. G. Ia pun bergegas menuju mobilnya untuk megambil ponselnya dan mengabarkan pada Bella kalau dia tidak bisa datang.
Di tengah jalan, tak sengaja ia bertemu Galih. Ia heran, bukankah Galih sedang menunggunya di taman? Kenapa ia bisa ada di sini? Sederet pertanyaan muncul di benaknya. Karena ia mengira sudah bertemu Mr. G., ia pun memutuskan untuk tidak megabari Bella dan berlari mendekati Galih.
”Hey, Galih.” sapa Elina.
”Oh, hey juga. Loe ngapain di sini?” tanya Galih.
”Emm, itu aku baru selesai tolongin Aline. Dia kecelakaan.”
”Oh, kok bisa? Maksud gue bukannya kalian musuhan?”
”Meskipun dia musuhku, aku eng-gak akan tega meninggalkannya saat kondisinya sedang berlumuran darah.”
”Uhmm, kamu baik juga ya.”
”Yea, dari dulu.”
Sekarang Elina telah pulang kembali ke rumahnya. Ia sangat lelah. Berjam-jam ia menunggu  Aline sampai keluarganya datang. Dan sekarang waktu telah menunjukan tepat pukul 22.00 malam. Waktu yang tepat untuk memejamkan mata dan beristirahat setelah seharian beraktifitas.
***
”Gimana dhi? Sukses kan?” tanya Bella penasaran.
”Sukses dari Hongkong. Dia aja nggak dateng.” jawab Gandhi. Terlihat sekali raut putus asa di wajahnya.
”Kok bisa?”
”Mana gue tau. Yang jelas dia nggak dateng.”
Saat Bella dan Gandhi sedang asyik mengobrol, tiba-tiba Elina datang dan ikut bergabung dengan mereka berdua.
”Hey, sedang apa kamu?” tanya Elina.
”Oh, kita lagi ngobrol nih. Oh iya, kenalin ini Gandhi anak X-3.” jawab Bella. Gandhi hanya tersenyum tipis pada Elina. Elina tercekat mendengar ucapan Bella. Ia tak bisa berkata apa-apa. Yang terlihat kini hanya wajahnya yang makin pucat.
”El, kamu nggak kenapa-kenapa kan?” tanya Bella. Namun tetap tak ada respon dari Elina. Pandangan Elina kini benar-benar kosong.
Tak lama kemudian Elina berlari keluar kelas. Elina berlari sekuat tenaga menuju ke perpustakaan, tempat favoritnya. Elina berlari sampai nafasnya tak berirama lagi dan jantungnya pun berdegub dengan kencang. Tanpa disadari matanya tertuju pada Galih yang sekarang hanya berjarak kurang dari dua meter darinya. Meskipun begitu, Elina masih tetap melangkahkan kakinya sampai hilang jarak di antara ia dan Galih.
Kini Elina telah ada pada pelukan Galih. Pelukan ini terasa hangat sekali di hati Elina. Andai saja Mr. G adalah Galih, bukan Gandhi, batin Elina dalam hati. Ternyata Elina telah mengetahui bahwa Mr. G yang sebenarnya ialah Gandhi, bukan Galih yang sekarang memeluknya erat. Rasa penyesalan dan kecewa bercampur di dalam benaknya. Galih yang sejak tadi meperhatikan Elina pun merasa bingung, apa yang sedang terjadi pada gadis yang tengah berada di pelukannya saat ini. Masalahnya wajah Elina terlihat sangat pucat dan pandangannya pun kosong. Ia pun membawa Elina ke ruang UKS dan menenangkannya.
Setibanya di ruang UKS, Galih segera membaringkan Elina ke tempat tidur. Ia menuangkan minuman ke dalam gelas yang ada di meja UKS dan memberikannya kepada Elina. Setelah keadaan Elina berangsur membaik, Galih pun mencoba memulai pembicaraan.
”Loe kenapa?” tanya Galih. Namun tak ada respon dari Elina. ”Kalo loe sakit, mending gue anter loe pulang aja.” Galih melanjutkan kata-katanya.
”Do you love me?” tanya Elina. Pertanyaan Elina seketika membuat Galih tak bisa berkata apa-apa. Elina pun mengulang lagi pertanyaannya. ”I’m sure you can hear my voice. Please answer my question.” kata Elina.
”Shhh” Galih mendesah. ”Gue nggak tau. Yang jelas gue nyaman banget kalo deket sama loe. Kayanya gue... suka sama loe.” ucapnya. Ucapan Galih baru saja telah melukiskan senyum kecil di bibir Elina. Baru saja Elina ingin menjawab ucapan Galih, namun Bella dan Gandhi datang dan masuk ke ruang UKS.
”Kamu nggak papa kan El ?” tanya Bella. Rupanya ia sangat khawatir dengan keadaan Elina.
”Bel, tolong kamu cerita ke aku siapa Mr G sesungguhnya.” pinta Elina. Bella pun segera melirik Gandhi yang sedang berdiri di sampingnya. Gandhi mengangguk mengijinkan Bella bercerita panjang lebar.
”Gandhi El. Dia yang naksir kamu. Kenapa? Bukannya kamu udah tau.” jawab Bella.
”I’m sorry. Aku kira Mr. G. itu...” ucap Elina sambil melirik Galih. ”Galih Bel. Maaf aku eng-gak tau. ”
 ”Aku sebenernya udah curiga El. Ternyata benar.” Ucap Gandhi. Ia terlihat sangat kecewa.
”Maaf banget. Trust me, aku benar-benar eng-gak tau.” jawab Elina.
”Iya, bukan masalah bagiku. Kamu memang lebih pantas bersama Galih.” Ucap Gandhi.
”Oh, harusnya gue yang minta maaf sama kalian. Gara-gara ada gue, Pedekate loe jadi kacau.” tambah Galih. Gandhi pun tersenyum kecil mendengar ucapan Galih. Senyum itu benar-benar senyum yang dipaksakan.
”Loe bener-bener suka sama Elina kan?” tanya Gandhi. Galih menjawabnya dengan anggukan pelan. ”Yaudah, sana gih tembak dia.” tambah Gandhi.
”Loe ikhlas?” tanya Galih sambil menyipitkan matanya.
”Iya Ikhlas.” Jawab Gandhi.
”Boleh gue peluk Loe El?” Tanya Galih. Namun tak ada respon dari Elina. Yang terlihat hanyalah rona merah di wajah Elina yang menandakan bahwa ia sedang tersipu malu. Tanpa menunggu jawaban Elina, Galih pun langsung memeluk Elina. Mereka Jadian !!
”Aku boleh ngomong eng-gak?” tanya Elina. Galih, Gandhi, dan Bella pun mengangguk pelan. ”I think  I LOVE INDONESIA !!” tambah Elina. Semua syok mendengar ucapan Elina. Betapa tidak, sejak pertama masuk Di SMA 13 Jakarta ia selalu berkata bahwa ia membenci orang-orang Indonesia. Tapi sekarang, ia malah mengatakan yang sebaliknya. Ia mengakui bahwa ia tidak bisa hidup tanpa orang-orang Indonesia. Apalagi sekarang ia tak mempunyai musuh. Aline yang merupakan musuh terbesarnya telah meminta maaf atas apa yang ia lakukan pada Elina. Aline merasa Elina adalah dewi penolongnya. Kalau saat itu tidak ada Elina, entah bagaimana hidup Aline sekarang. Sekarang, hidup Elina benar-benar sempurna. Sempurna ! Sempurna !! Sempurna !!!

THE END