Wednesday, July 12, 2017

BELAJAR KROMATOGRAFI KOLOM CEPAT? Part 1

Biar postingan kali ini sedikit lebih berfaedah, aku mau sedikit menjelaskan tentang metode pemisahan atau pemurnian senyawa yang biasa dilakukan orang-orang kimia terutama kimia organik. Aku rasa sih orang farmasi juga ngelakuin ini. Pokoknya siapa aja yang butuh, semoga postingan kali ini bermanfaat. 
Selama aku kuliah, permasalahan yang paling sering aku hadapi adalah susah mencari referensi yang menjelaskan dengan sejelas-jelasnya tentang suatu teori atau eksperimen di laboratorium. Banyak sih materi dalam bentuk ppt, word, pdf yang bertebaran kaya meses di atas donat. Tapi ga semuanya bisa kumengerti dengan jelas. Dan setiap kali aku browsing buat cari maksud dari tulisan itu, I found nothing.

Gambar : Parade kolom kala itu 

Salah satunya ya, metode kromatografi kolom cepat atau bahasa bekennya Flash Column Chromatography. Well, wait till I tell you ‘bout what’s the meaning of Chromatography. Jika didefinisikan, kromatografi adalah metode pemisahan yang didasarkan pada perbedaan distribusi zat pada fase diam dan fase gerak. Apa itu fase diam? Dan apa itu fase gerak? Coba tanya mbah gugel kalo soal definisinya. Jujur aku agak kesulitan kalo disuruh mendefinisikan.
Jadi langsung ke prakteknya aja ya. Biasanya orang-orang melakukan kromatografi kolom ini buat memisahkan beberapa senyawa aktif dalam suatu campuran. Kalau konteksnya sintesis, ya berarti memisahkan produk utamanya dengan produk samping yang tidak diinginkan.
Misalnya dalam suatu reaksi A + B à C + D
Senyawa target kita sebenernya C, tapi dalam suatu reaksi pasti akan selalu ada produk samping yang sebenernya tidak diinginkan. Makdartu maka dari itu, untuk mendapatkan senyawa C dalam bentuk semurni-murninya, dilakukanlah metode kromatografi kolom. Nah, sekarang kalo konteksnya isolasi senyawa bahan alam, sama aja sih. Berarti kita memisahkan senyawa apa saja yang terkandung dalam sampel kita. Misalnya, kita mau ambil vitamin C dalam buah tomat. Di dalam buah tomat kan gak cuma ada vitamin C, ada juga vitamin A dan mungkin vitamin B dan E. Untuk mendapatkan vitamin C dalam bentuk murni, dipakailah metode kromatografi kolom. Itu cuma permisalan aja ya, soalnya selama ini orang-orang bahan alam biasanya mengisolasi senyawa-senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, alkaloid, minyak atsiri, aku sih jarang denger ada yang isolasi vitamin C dari buah-buahan :’)
Dan ga se-sederhana itu ya untuk sampai pada tahap kromatografi kolom, banyak tahapan yang perlu dilakukan oleh orang-orang kimia organik bahan alam. Jujur aku sih cuma ngeliatin aja selama ini. Soalnya penelitianku bukan isolasi tapi sintesis, yaaa walaupun sama-sama bahan alam.
Untuk melakukan metode kromatografi kolom, yang perlu disiapkan adalah kolomnya itu sendiri, silica gel sebagai fase diamnya, pelarut organik sebagai eluen atau fase gerak, kapas, klem dan statif, jangan lupa ekstrak atau campuran hasil reaksi yang mau kita pisahkan senyawanya. Bagi yang udah pernah baca atau pernah melakukan atau setidaknya sedikit paham tentang kromatografi kolom, pastilah tau kalau ukuran kolom itu berbeda-beda. Ada yang diameternya 2 sampai tak terbatas hahaha. Eh iya loh aku ga bercanda. Tapi ukuran yang lazimnya ada di laboratorium suatu instansi paling-paling  cuma 2-5 cm diameternya. Terus panjangnya juga, ada yang 30 cm tapi ada juga yang sampe 60 cm. Saran dariku, liat sampel kalian. Semakin banyak sampel yang kalian punya, maka semakin besar pula ukuran kolom yang harus kalian gunakan.
Oh iya, semakin besar diameter kolom yang kalian gunakan, maka eluen yang menetes pun juga semakin cepat. Kalo kalian buru-buru, atau pengen cepet kelar kolomnya, pakailah kolom yang diameternya besar. Tapi, jangan lupa sesuaikan dengan jumlah silica gel yang kalian gunakan. Dan sesuaikan pula dengan jumlah sampel kalian.
Sekarang lanjut ke jumlah silica gel yang harus kalian gunakan. Eitss, jenisnya dulu ya. Silica gel itu ada macem-macem ukurannya mulai dari yang seukuran gula pasir sampe tepung gandum. Ini cuma buat mempermudah biar kalian bisa langsung membayangkan teksturnya. Semakin kecil ukuran setiap bulir silica gelnya, semakin lama pula proses kolom kalian. Tapiii, semakin lama bakalan semakin bagus pemisahannya. Yaaa ibarat saringan lah, makin kecil lubangnya kan makin lama proses penyaringannya. Tapi penyaringannya makin bagus bukan? Waktu penelitian kemaren aku pake Silica gel 60 G, itu teksturnya kaya tepung gandum. Lama banget proses kolomnya apalagi kalo pake kolom yang diameternya 2 cm… hmmmm

 Gambar: Penampakan silica gel 60 G

Tapi ada juga ukuran silica gel yang lebih kecil lagi. Waktu itu temen aku yang pake, kurang tau jenisnya, kalo ga silica gel 60 ya 60 H. Soalnya yang dipake temenku dua jenis itu sih. Salah satunya teksturnya kaya gula pasir, cuma aku lupa yang mana. Then, mengenai jumlah silica gelnya, sesuai standar, 1 gram sampel kalian, jumlah silica gel yang dipake adalah 30 sampai 40 gram. Tinggi silica gel dalam kolom diatur minimal 15-20 cm. Kalo seandainya sampel kalian 5 gram, maka silica gel yang dipakai kudu minimal 150 gram, jadi jangan coba-coba pake kolom yang diameter 2 cm yak, karena gaakan muat silica gel nya.
Kalo boleh jujur, waktu itu aku ga bener-bener ngikutin prosedur sih. Maksudnya ga setiap satu gram kita pakai 30 gram silica gel. Pokoknya asal tinggi silica gel dalam kolom udah melebihi 20 cm, aku ga nambah-nambah silica lagi. Alhamdulillah hasilnya lumayan, lumayan bisa ditiru. Ini demi pengiritan guys. Harga silica gel mahal :(
Well, sampai di sini dulu ceritaku tentang kromatografi kolom. Mungkin lain kali bakalan kulanjutin lagi. Karena sesungguhnya aku belum menjelaskan dimana letak FLASH dalam kromatografi ini. Hahahaha 

1 comment:

  1. wadauw, ane gak ngerti ma yg bginian. dari dulu emang gak suka sains.

    pdahal dulu ane heran lho, sma ilmuwan2 yang jago nentuin zat kimia sama suatu makanan. koq bisa yaa?, ternyata ini jawabannya. ;)
    Nice post

    ReplyDelete